BUKIT PENAMPIHAN








Bukit Penampihan terletak dikaki perbukitan lereng Gtnung Wilis bagian selatan tepatnya di Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.

Dari pusat kota menuju lereng Gunung Wilis butuh waktu tak kurang dari 40 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor.



 Di
daerah ini banyak peninggalan situs-situ sejarah purbakala, diantaranya
adalah Candi Penampihan yang lebih dikenal dengan nama Candi Asmoro
Bangun. Merupakan candi Hindu kuno peninggalan kerajaan Mataram kuno,
dibangun pada tahun saka 820 atau 898 Masehi. Arti penampihan itu
sendiri konon berasal dari Bahasa Jawa yang berarti antara penolakan dan
penerimaan yang bersyarat demikian tafsirnya.






Candi
penampihan merupakan candi pemujaan dengan tiga tahapan (teras) yang
dipersembahkan untuk memuja Dewa Siwa, dimana konon peresmian candi ini
dengan mengadakan pagelaran Wayang (ringgit). Selanjutnya era demi era
pergolakan perebutan kekuasaan dan politik di tanah jawa berganti mulai
dari kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Singosari, hingga Majapahit sekitar
abad 9-14 M, candi ini terus digunakan untuk memuja Dewata, Sang Hyang
Wenang.


Didalam kompleks Candi terdapat beberapa Arca yaitu arca
Siwa dan Dwarapala, tetapi karena ulah Manusia yang tidak mencintai dan
menghargai Heritage dan legacy dari nenek moyang beberapa arca telah
hilang dan rusak. Untuk mengamankan beberapa arca yang tersisa yaitu
arca siwa sekarang diletakan di museum situs Purbakala Majapahit
Trowulan Jawa timur.


Selain Arca terdapat sebuah prasasti kuno yaitu
Prasasti Tinulat tertulis dengan menggunakan huruf Pallawa dengan
stempel berbentuk lingkaran dibagian atas prasasti. Berdasarkan
Penuturan Bu Winarti umur 44 Tahun, juru kunci Candi Penampihan,
Prasasti itu berkisah tentang


Nama-nama raja Balitung, serta seorang
yang bernama Mahesa lalatan, namun sayang tidak ada catatan sejarah
maupun prasasti lain yang bisa menguak keberadaannya. Serta seorang
putri yang konon bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri. Selain
menyebutkan nama, prasasti itu juga memberikan informasi tentang Catur
Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu dimana pengklasifikasian
masyarakat (stratifikasi ) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu
Brahmana, satria, Vaisya dan Sudra. Di prasasti tersebut tercatat juga
nama Wilis yang kemudian dikenal menjadi nama gunung ini. Wilis sendiri
artinya hijau, subur.




Dalam Tutur Tinular original karya S.
Tidjab, di Bukit Penampihan inilah kemudian ibunda Sakawuni yang bernama
Ayu Pupu, anak Ki Sughata Brahma menetap. Meninggalkan Desa Tanibala
setelah sebelumnya tidak sanggup menanggung malu karena melahirkan
anaknya, Sakawuni, tanpa status suami yang sah, dari hubungan asmaranya
dengan salah satu perwira Singhasari yang bernama Banyak Kapuk. Ayu Pupu
kemudian belajar ilmu pengobatan dan mengubah namanya menjadi Dewi
Tunjung Biru. Ia kemudian juga menampung banyak para wanita yang khusus
disakiti kaum laki-laki dan dijadikan muridnya.




Dewi Tunjung
Biru sangat ahli dibidang pengobatan, terutama bagi ornag yang luka
dalam dan terkena pukulan beracun. Salahsatu orang yang pernah
diselamatkan dengan Bunga Tunjung Biru yang dimilikinya adalah Arya
Kamandanu, menyusul kemudian Sakawuni sendiri yang terkena pukulan
beracun Aji Tapak Wisa milik Dewi Sambi. Namun ia gagal mengobati Banyak
Kapuk yg pada akhirnya bisa dipertemukan kembali oleh Sakawuni dan
Kamandanu, yang kala itu dalam keadaan luka parah, juga karena pukulan
Tapak Wisa Dewi Sambi.




(Dirangkum dari berbagai sumber)



Keterangan Gambar :

1. Bukit Penampihan

2. Candi Penampihan (Candi Asmoro Bangun)

3. Prasasti Tinulat





 (Lihat cerita asli Tutur Tinular karya S.Tidjab di Facebook: http://facebook.com/Tutur.Tinular.Versi.2011.Indosiar)

Comments

  1. Jadi ingat masa kecil dengarkan pedang naga Puspa. Www.sarikurmaajwa.com Sehat lebih lama

    ReplyDelete
  2. Jadi ingat masa kecil dengarkan pedang naga Puspa. Www.sarikurmaajwa.com Sehat lebih lama

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menginvestasi Ilmu

GOA JOMBLANG DAN GOA GRUBUK

BONO SUNGAI KAMPAR - RIAU